Maraton Tanpa Sadar, Fenomena Ketagihan Nonton Drama China di Kalangan Anak Muda

Fenomena menonton drama China atau Chinese Drama (C-Drama) belakangan ini semakin terasa di kalangan anak muda Indonesia. Awalnya hanya berniat menonton satu atau dua episode untuk mengisi waktu luang, namun tanpa disadari aktivitas tersebut berubah menjadi maraton berjam-jam. Kalimat “satu episode lagi” seolah menjadi mantra yang sulit ditolak. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan istilah ketagihan menonton drama China, sebuah fenomena budaya populer yang semakin menguat seiring perkembangan platform digital. Drama China kini tidak lagi dipandang sebagai tontonan asing atau terbatas pada penggemar tertentu. Alur cerita yang emosional, visual yang memanjakan mata, serta karakter yang kuat membuat C-Drama berhasil mencuri perhatian generasi muda. Platform streaming seperti iQIYI, WeTV, Netflix, dan Youku menghadirkan akses mudah dengan subtitle bahasa Indonesia, sehingga hambatan bahasa nyaris tidak lagi menjadi masalah. Menurut data WeTV Indonesia (2023), jumlah penonton drama China di Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir, terutama dari kelompok usia 18–30 tahun.

Salah satu faktor utama yang membuat drama China begitu adiktif adalah kekuatan narasi. Drama China dikenal memiliki alur cerita panjang dengan konflik yang dibangun secara bertahap. Setiap episode biasanya diakhiri dengan cliffhanger yang membuat penonton penasaran dan terdorong untuk segera menonton episode berikutnya. Psikolog media dari Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa rasa penasaran yang terus dipancing secara berulang dapat memicu dorongan psikologis untuk terus menonton tanpa jeda (Salim, 2022). Selain alur cerita, karakter dalam drama China juga menjadi daya tarik kuat. Tokoh utama sering digambarkan dengan latar belakang emosional yang kompleks, mulai dari perjuangan hidup, konflik keluarga, hingga kisah cinta yang penuh pengorbanan. Penonton, khususnya anak muda, kerap merasa terhubung secara emosional dengan karakter tersebut. Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Jurnal Psikologi Sosial Universitas Gadjah Mada, keterikatan emosional terhadap karakter fiksi dapat menciptakan ilusi hubungan personal yang membuat penonton merasa “dekat” dengan tokoh yang ditonton (Pratiwi & Lestari, 2021). Fenomena maraton drama China juga tidak terlepas dari kondisi sosial anak muda saat ini. Tekanan akademik, tuntutan pekerjaan, dan dinamika kehidupan sosial membuat banyak anak muda mencari pelarian yang bersifat emosional dan menghibur. Drama China menawarkan dunia alternatif yang penuh emosi, romansa, dan konflik dramatis yang berbeda dari realitas sehari-hari. Sosiolog budaya dari Universitas Padjadjaran, Dr. Asep Suryana, menyebutkan bahwa tontonan populer sering berfungsi sebagai mekanisme escapism, yaitu pelarian sementara dari tekanan hidup (Suryana, 2022).

Namun, di balik daya tariknya, kebiasaan maraton drama China juga membawa dampak yang perlu diperhatikan. Salah satu dampak paling nyata adalah perubahan pola waktu. Banyak anak muda mengaku tidur larut malam demi menyelesaikan satu judul drama. Penelitian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan begadang akibat konsumsi konten digital berlebihan berpotensi menurunkan kualitas tidur dan berdampak pada kesehatan fisik serta mental. Selain itu, ketagihan menonton drama China juga dapat memengaruhi produktivitas. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, atau berinteraksi sosial sering kali tergeser oleh aktivitas menonton. Psikolog klinis dari HIMPSI, Dr. Intan Paramita, menyatakan bahwa konsumsi hiburan berlebihan dapat menyebabkan penurunan fokus dan motivasi, terutama jika tidak diimbangi dengan pengelolaan waktu yang baik (Paramita, 2023).

Dari sisi emosional, drama China juga memiliki dampak yang beragam. Banyak penonton merasakan kepuasan emosional setelah menonton, terutama ketika cerita berakhir bahagia. Namun, tidak sedikit pula yang mengalami emotional fatigue akibat terlalu larut dalam konflik dan kesedihan yang ditampilkan. Fenomena post-drama blues, yaitu perasaan hampa atau sedih setelah menyelesaikan sebuah drama, semakin sering dialami oleh penonton muda (Putra, 2022).

Meski demikian, tidak semua dampak dari kebiasaan menonton drama China bersifat negatif. Dalam batas wajar, drama China juga dapat memberikan manfaat. Banyak drama mengangkat nilai-nilai seperti kerja keras, kesetiaan, persahabatan, dan ketekunan. Drama berlatar sejarah dan budaya Tiongkok juga membuka wawasan penonton terhadap nilai-nilai budaya lain. Menurut dosen kajian budaya populer Universitas Airlangga, Dr. Rina Wahyuni, tontonan lintas budaya dapat memperkaya perspektif dan meningkatkan toleransi budaya jika dikonsumsi secara kritis (Wahyuni, 2021). Drama China juga kerap menjadi sarana relasi sosial. Diskusi tentang drama favorit di media sosial, forum daring, atau grup pertemanan menciptakan ruang interaksi baru bagi anak muda. Hashtag drama China sering masuk dalam daftar tren di media sosial Indonesia, menunjukkan bahwa tontonan ini telah menjadi bagian dari percakapan publik. Fenomena ini menegaskan bahwa drama China tidak hanya berfungsi sebagai hiburan individual, tetapi juga sebagai produk budaya kolektif.

Di sisi lain, standar romantisme yang ditampilkan dalam drama China kerap memengaruhi ekspektasi penonton terhadap hubungan nyata. Kisah cinta yang terlalu ideal dapat menciptakan gambaran relasi yang tidak realistis. Psikolog perkembangan dari Universitas Negeri Jakarta, Dr. Andi Prakoso, mengingatkan bahwa anak muda perlu menyadari perbedaan antara narasi fiksi dan realitas agar tidak terjebak dalam ekspektasi emosional yang berlebihan (Prakoso, 2023).

Fenomena ketagihan menonton drama China juga mencerminkan perubahan pola konsumsi media generasi muda. Anak muda saat ini tidak lagi menonton televisi secara konvensional, melainkan memilih konten sesuai preferensi pribadi. Algoritma platform streaming yang merekomendasikan tontonan serupa semakin memperkuat kecenderungan maraton tanpa sadar. Menurut laporan literasi digital Kementerian Komunikasi dan Informatika (2023), algoritma konten berperan besar dalam membentuk kebiasaan konsumsi media generasi muda. Dalam konteks ini, kesadaran digital menjadi kunci. Menonton drama China bukanlah hal yang salah, namun perlu diimbangi dengan kontrol diri dan manajemen waktu. Anak muda perlu menyadari kapan hiburan berubah menjadi kebiasaan yang merugikan. Edukasi literasi media menjadi penting agar generasi muda mampu menikmati hiburan secara sehat dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, fenomena maraton drama China di kalangan anak muda adalah cerminan dari kebutuhan emosional, sosial, dan hiburan di era digital. Drama China hadir dengan segala daya tariknya, menawarkan pelarian, emosi, dan cerita yang memikat. Ketagihan menonton bukan semata-mata soal lemahnya kontrol diri, tetapi juga tentang bagaimana media dirancang untuk menarik perhatian secara terus-menerus. Dengan memahami fenomena ini secara lebih kritis, anak muda diharapkan mampu menikmati drama China sebagai hiburan yang menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan, produktivitas, dan keseimbangan hidup. Maraton boleh saja, asal tetap sadar batas. Karena pada akhirnya, hiburan seharusnya memberi ruang jeda, bukan mengambil alih seluruh waktu dan energi.

Daftar Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Dampak kebiasaan begadang terhadap kesehatan remaja. Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. (2023). Laporan literasi digital generasi muda Indonesia. Jakarta: Kominfo.

Paramita, I. (2023). Konsumsi hiburan digital dan kesehatan mental generasi muda. Buletin HIMPSI, 15(2), 45–52.

Prakoso, A. (2023). Romantisme media dan ekspektasi hubungan pada remaja. Jurnal Psikologi Perkembangan, 11(1), 23–34.

Pratiwi, D., & Lestari, S. (2021). Keterikatan emosional penonton terhadap karakter fiksi. Jurnal Psikologi Sosial, 18(2), 101–112.

Putra, R. A. (2022). Fenomena post-drama blues pada penonton serial Asia. Jurnal Media dan Budaya Populer, 6(1), 55–67.

Salim, R. M. A. (2022). Psikologi rasa penasaran dalam konsumsi media hiburan. Jakarta: UI Press.

Suryana, A. (2022). Budaya populer dan mekanisme eskapisme generasi muda. Jurnal Sosiologi Budaya, 9(3), 89–103.

Wahyuni, R. (2021). Drama Asia dan pembentukan perspektif lintas budaya. Jurnal Kajian Budaya, 7(2), 140–152.

Artikel Serupa